Minggu, 17 Desember 2017

Makalah-Guru-Dan-Administrasi-Pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN

A.                Latar Belakang

Pada waktu yang lampau, pada umumnya tugas kewajiban guru hampir seluruhnya mengenai pekerjaan mengajar melulu dalam arti menyampaikan keterangan-keterangan dan fakta-fakta dari buku kepada murid, memberi tugas-tugas dan memeriksanya.
Waktu dan keadaan demikian di sekolah-sekolah kita sekarang telah sedang berlaku dengan cepat. Sekarang, guru harus juga memperhatikan kepentingan-kepentingan sekolah, ikut serta menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi sekolah, yang kadang-kadang sangat kompleks sifatnya.
Dalam banyak hal pekerjaannya berhubungan erat sekali dengan pekerjaan seorang pengawas, kepala sekolah, pegawai tata usaha sekolah, dan berbagai pejabat inspeksi lainnya.
Secara berangsur-angsur tekanan makin diberikan kepada partisipasi guru dalam administrasi pendidikan/sekolah, yakni penyelenggaraan dan manajemen sekolah.
Tokoh-tokoh pendidikan sekarang menekankan kepada gagasan tentang demokrasi dalam hidup sekolah; guru-guru hendaknya didorong untuk ikut serta dalam pemecahan masalah-masalah administrasi yang langsung mempengaruhi status professional guru.
Kegiatan partisipasi guru dalam administrasi sekolah itu seperti sumbangan-sumbangan guru terhadap perbaikan kesejahteraan guru dan murid, penyempurnaan kurikulum, pilihan buku-buku dan alat-alat pelajaran, dsb.
Berhubung dengan itu, sangat penting dibicarakan dalam rangka administrasi pendidikan ini tentang peranan dan tanggung jawab guru di dalam organisasi dan administrasi sekolah tempat kegiatan-kegiatan meliputi lebih dari khusus mengajar di dalam kelas.




B.                Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang penulis angkat didalam makalah ini sebagai proses pembelajaran adalah sebagai berikut :
1.                  Bagaimana partisipasi guru dalam administrasi pendidikan ?
2.                  Apa arti demokrasi dalam administrasi sekolah ?
3.                  Beberapa kesempatan berpartisipasi !
4.                  Bagaimana orientasi bagi guru-guru baru !
5.                  Kode etik guru !

C.                Tujuan Penulisan
Tujuan penulis dalam makalah ini tidak bukan sebagai memberikan pemahaman dan gambaran kepada pembaca agar bisa melaksanakan isi makalah ini dengan sebaik mungkin.



















BAB II
PEMBAHASAN

GURU DAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN

A.                Pentingnya Partisipasi Guru Dalam Administrasi Pendidikan

Sesudah Indonesia merdeka, sistem pendidikan di sekolah-sekolah bersifat nasional dan demokratis. Untuk mencapai tujuan ini, diperlukan administrasi dan pengawasan yang demokratis pula, dan sekolah-sekolah harus benar-benar hidup dan tumbuh di atas dasar-dasar filsafat Negara, yaitu pancasila.
Untuk itu pula maka partisipasi guru dalam administrasi sekolah sangat penting dan menjadi keharusan. Partisipasi dimaksud hendaknya ditafsirkan sebagai kesempatan-kesempatan kepada para guru dan kepala sekolah untuk memberi contoh tentang bagaimana demokrasi dapat diterapkan untuk memecahkan berbagai masalah pendidikan.
Harus diakui, proses pendemokrasian administrasi dan pengawasan sekolah-sekolah itu meminta waktu, dan hanya dapat dicapai secara berangsur-angsur. Kebiasaan-kebiasaan yang tradisional pada para petugas pendidikan dan para guru, sukar sekali mengubah dan membuangnya.
Banyak usaha pembaharuan telah dijalankan, seperti dalam bentuk dari isi kurikulum, cara-cara atau metode-metode mengajar yang baik dan efisien, adanya pembinaan dan penyuluhan, kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler, dan sebagainya. Tetapi, semua itu tidak hanya mendatangkan hasil yang sedikit sekali, kadang-kadang tidak kelihatan sama sekali hasilnya. Hal ini disebabkan antara lain oleh adanya konservatisme dan sifat-sifat tradisional di dalam praktek kehidupan pendidikan yang sangat kuat. Juga disebabkan karena kurang atau tidak diikut sertakannya guru-guru dalam usaha-usaha pembaharuan pendidikan.[1]

B.                Arti Demokrasi Dalam Administrasi Sekolah
Penerapan demokrasi dalam administrasi sekolah hendaknya diartikan bahwa administrasi sebagai kegiatan atau rangkaian kegiatan kepemimpinan; dengan itu tujuan-tujuan sekolah dan cara-cara untuk mencapainya dikembangkan dan dijalankan. Kegiatan-kegiatan kepemimpinan ini meliputi :
1.                  Kegiatan mengorganisasi personel dan material,
2.                  Merencanakan program / kegiatan-kegiatan,
3.                  Membangun semangat guru-guru dan inisiatif perseorangan / kelompok kea rah tercapainya tujuan-tujuan,
4.                  Menilai hasil-hasil dari rencana-rencana, prosedur-prosedur, serta pelaksanaannya oleh perseorangan dan kelompok.

Apabila administrasi dipandang sebagai proses bekerja dengan orang-orang dan mengordinasi usaha-usaha mereka ke dalam keseluruhan yang bekerja efisien dan produktif, maka jelas bahwa tanggung jawab tidak dapat lagi dipusatkan pada hanya satu orang belaka. Tanggung jawab harus disalurkan secara luas diantara semua orang yang mengambil bagian dalam program sekolah.
Dengan demikian, tekanan berpindah dari kekuasaan untuk menentukan dan memerintah kepada proses mengembangkan semangat, pikiran, dan perbuatan yang koorperatif, dan kepada kesempatan-kesempatan yang diciptakan bagi pertumbuhan kepemimpinan perseorangan dan kelompok.
Masalah memimpin dan mengatur sekolah secara demokratis menimbulkan masalah tentang perlunya kesempatan-kesempatan bagi partisipasi bagi guru-guru secara penuh, juga pegawai-pegawai sekolah, murid-murid dan orang tua murid, dalam memikirkan cara-cara memajukan program dan kesejahteraan sekolah. Persetujuan semua merupakan cirri khas bagi demokrasi di dalam administrasi sekolah.
Adapun pola-pola tingkah laku yang demokratis yang seyogyanya dimiliki oleh guru ialah :
1)        Menghormati kepribadian seseorang,
2)        Memperhatikan hak kebebasan orang lain,
3)        Kerja sama dengan orang lain,
4)        Menggunakan kecakapan-kecakapan mereka untuk memajukan kesejahteraan umum dan kemajuan sosial,
5)        Lebih menghargai penggunaan kecerdasan secara efektif dalam memecahkan masalah-masalah daripada penggunaan kekerasan atau emosi,
6)        Menyelidiki, menemukan, dan menerima kekurangan-kekurangan diri sendiri dan berusaha memperbaikinya, dll
C.                Beberapa Kesempatan Berpartisipasi
Ada bermacam-macam kesempatan yang dapat digunakan untuk mengikut sertakan guru-guru dalam kegiatan-kegiatan sekolah seperti dalam :
a.                  Mengembangkan filsafat pendidikan
Mengembangkan filsafat pendidikan berarti bahwa dalam  setiap langkah kegiatan mendidik selalu berusaha hendak menjawab apakah yang sedang kita lakukan, bagaimana kita melakukanny, apa sebab kita melakukannya, bagaimana kita melakukannya.
b.                  Memperbaiki dan menyesuaikan kurikulum
Guru-guru sendiri untuk sebagian terbesar tidak mengambil bagian apapun dalam perencanaan perbaikan kurikulum itu. Mereka tinggal menerima dan menggunakan saja menurut apa adanya.
c.                  Merencanakan program supervisi
Dengan supervisi dimaksudkan kegiatan-kegiatan yang langsung ditujukan untuk memperbaiki situasi mengajar-belajar di dalam kelas. Tujuannya yang pokok ialah membantu para guru untuk tumbuh secara pribadi dan professional, dan untuk belajar memecahkan sendiri masalah-masalah yang mereka hadapi dalam tugasnya.
d.                 Merencanakan kebijakan-kebijakan kepegawaian
Sekarang, dengan adanya PGRI dan makin berkembangnya kesadaran dan pengertian akan perlunya demokrasi dalam pendidikan pada pemimpin-pemimpin pendidikan dan pendidik/guru kita pada umumnya, kebijakan-kebijakan kepegawaian makin berubah kea rah pelaksanaan yang demokratis.

D.                Orientasi Bagi Guru-guru Baru
a.                   Arti dan perlunya orientasi
Yang dimaksud dengan masa orientasi ialah suatu kesempatan yang diberikan kepada seorang pegawai atas guru yang baru mulai bekerja, untuk mengadakan observasi dan berpartisipasi langsung dengan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan tugasnya sebagai guru di sekolah itu, agar dalam waktu yang relatif singkat ia dapat segera mengenal dan menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat ia bekerja.
b.                  Tujuan orientasi
Tujuan orientasi yang terutama ialah membawa guru baru untuk dapat segera mengenal situasi dan kondisi serta kehidupan sekolah pada umumnya, agar selanjutnya dapat mendorong / memberi motivasi kepada mereka untuk bekerja lebih baik dan bergairah.
c.                   Kegiatan-kegiatan orientasi
·         Bantuan mendapat perumahan/tempat tinggal yang sesuai,
·         Mengenalkan guru baru kepada sistem dan tujuan sekolah,
·         Mengenalkan guru baru kepada kondisi dan situasi masyarakat lingkungan sekolah,
·         Membantu guru baru dalam perkenalan dan penyesuaian terhadap personel sekolah,
·         Membantu guru baru dalam usaha memperbaiki dan mengembangkan kecakapan-kecakapan mengajarnya,
·         Membangkitkan sikap-sikap dan minat professional,
·         Menyediakan kesempatan untuk bertukar ide-ide.[2]

E.                Kode Etik Guru
1.                  Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila.
2.                  Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran professional dalam menetapkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan peserta didik masing-masing.
3.                  Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan melakukan bimbingan dan pembinaan.
4.                  Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang keberhasilan proses belajar mengajar.
5.                  Guru memelihara hubungan baik dengan orang tua siswa dan masyarakat sekitarnya untuk membina peran serta dan rasa tanggung jawab bersama terhadap pendidikan.
6.                  Guru secara pribadi dan bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya.
7.                  Guru memelihara hubungan seprofesi, semangat keluargaan dan kesetiakawanan sosial.
8.                  Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian.
9.                  Guru melaksanakan segala kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan.[3]




















BAB III
PENUTUP

A.                Kesimpulan

Setelah diketahui jadi dapat kita simpulakan bahwa guru dan  administrasi itu meliputi, (1) pentingnya partisipasi guru dalam administrasi pendidikan, (2) arti demokrasi dalam administrasi sekolah, (3) beberapa kesempatan berpartisipasi, (4) orientasi bagi guru-guru baru, (5) kode etik guru.
Sesudah Indonesia merdeka, sistem pendidikan di sekolah-sekolah bersifat nasional dan demokratis. Untuk mencapai tujuan ini, diperlukan administrasi dan pengawasan yang demokratis pula, dan sekolah-sekolah harus benar-benar hidup dan tumbuh di atas dasar-dasar filsafat Negara, yaitu pancasila.
Untuk itu pula maka partisipasi guru dalam administrasi sekolah sangat penting dan menjadi keharusan. Partisipasi dimaksud hendaknya ditafsirkan sebagai kesempatan-kesempatan kepada para guru dan kepala sekolah untuk memberi contoh tentang bagaimana demokrasi dapat diterapkan untuk memecahkan berbagai masalah pendidikan.
Penerapan demokrasi dalam administrasi sekolah hendaknya diartikan bahwa administrasi sebagai kegiatan atau rangkaian kegiatan kepemimpinan; dengan itu tujuan-tujuan sekolah dan cara-cara untuk mencapainya dikembangkan dan dijalankan. Kegiatan-kegiatan kepemimpinan ini meliputi :
5.                  Kegiatan mengorganisasi personel dan material,
6.                  Merencanakan program / kegiatan-kegiatan,
7.                  Membangun semangat guru-guru dan inisiatif perseorangan / kelompok kea rah tercapainya tujuan-tujuan,
8.                  Menilai hasil-hasil dari rencana-rencana, prosedur-prosedur, serta pelaksanaannya oleh perseorangan dan kelompok.






B.                Kritik dan Saran
Penulis sangat menyadari dalam makalah ini mungkin banyak kesalahan dari segi internalnya maupun eksternalnya, penulis sangat berharap agar pembaca bisa memberikan saran ataupun kritik berupa masukan yang positif demi kesempurnaan isi makalah ini.



























DAFTAR PUSTAKA
Purwanto. Ngalim,  Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung : Remaja Rosdakarya,2010)

Taniredja. Tukiran, Pudjo Sumedi, dan Tri Yulianto Purnama, GURU YANG PROFESIONAL, (Bandung : ALFABETA, 2015)



[1]  Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung : Remaja Rosdakarya,2010), Hlm.145
[2]  Ngalim Purwanto, Ibid, Hlm.146-155
[3]  Tukiran Taniredja, Pudjo Sumedi, dan Tri Yulianto Purnama, GURU YANG PROFESIONAL, (Bandung : ALFABETA, 2015), Hlm.108

makalah-Perencanaa-Pembelajaran

KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami ucapkan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami. Sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini sesuai waktu yang telah ditentukan.
Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi junjungan alam, panutan hati setiap muslim yang senantiasa mengharapkan safa’at-Nya di Yaumil Qiyamah dengan ucapan “Allahumma shalli’ala Sayyidina Muhammad wa’ala Alihi Sayyidina Muhammad. ”Makalah ini dibuat dalam rangka usulan untuk memenuhi tugas kelompok pada mata kuliah MANAJEMEN KELAS dengan judul “PERENCANAAN PEMBELAJARAN”. Di susun dengan tujuan utama membantu serana belajar mengajar di perkuliahan ini.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu, dengan ucapan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.





Tembilahan, 23 Oktober 2017

Penulis
DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR............................................................................................ i
DAFTAR ISI............................................................................................................ ii
BAB I ........ PENDAHULUAN.............................................................................. 1
A.                     Latar belakang........................................................................ 1
B.                     Rumusan Masalah.................................................................. 2
C.                     Tujuan Penulisan.................................................................... 2
BAB II ....... PEMBAHASAN................................................................................. 3
A.                     Pengertian Perencanaan Pembelajaran................................... 3
B.                     Perencanaan Proses Pembelajaran.......................................... 4
C.                     Dasar Perlunya Perencanaan Pembelajaran............................ 5
D.                     Karakteristik Perencanaan Pembelajaran................................ 6
E.                      Manfaat Perencanaan Pembelajaran....................................... 7

BAB III ..... PENUTUP.......................................................................................... 8
A.                     Kesimpulan............................................................................. 8
B.                     Saran dan Keritik................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................. 10




BAB I
PENDAHULUAN

A.                Latar Belakang
Dalam rangka pembaharuan sistem pendidikan nasional telah ditetapkan visi, misi dan strategi pembangunan pendidikan nasioanal. Visi pendidikan nasional adalah terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga Negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.
Terkait dengan visi tersebut telah ditetapkan serangkaian prinsip penyelenggaraan pendidikan untuk dijadikan landasan dalam pelaksanaan reformasi pendidikan. Salah satu prinsip tersebut ialah pendidikan diselenggarakan sebagai proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Dalam proses tersebut diperlukan guru yang memberikan keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan potensi dan kretivitas peserta didik. Implikasi dari prinsip ini adalah pergeseran paradigm proses pendidikan, yaitu dari paradigm pengajaran ke-paradigma pembelajaran.
Sesuai dengan amanat peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan, salah satu standar yang harus dikembangkan adalah standar proses. Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaraan pada satuan pendidikan untuk mencapai kompetensi kelulusan. Standar proses berisi kriteria minimal proses pembelajaran pada satuan pendidikan dasar dan menengah di seluruh wilayah hukum NKRI. Standar proses ini berlaku untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah pada jalur formal, baik pada sistem paket maupun pada sistem kredit semester. Standar proses meliputi perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.




B.                Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang penulis angkat didalam makalah ini sebagai proses pembelajaran adalah sebagai berikut :
1.                  Apa pengertian perencanaan pembelajaran ?
2.                  Bagaimana pemahaman tentang perencanaan proses pembelajaran !
3.                  Apa dasar perlunya perencanaan pembelajaran ?
4.                  Bagaimana karakteristik perencanaan pembelajaran !
5.                  Apa manfaat mengetahui perencanaan pembelajaran ?

C.                Tujuan Penulisan
Tujuan penulis dalam makalah ini tidak bukan sebagai memberikan pemahaman dan gambaran kepada pembaca agar bisa melaksanakan isi makalah ini dengan sebaik mungkin.



















BAB II
PEMBAHASAN

PERENCAAN PEMBELAJARAN

A.                Pengertian Perencanaan Pembelajaran
Dalam ilmu manajemen perencanaan sering disebut dengan istilah “Planning” yaitu “persiapan menyusun suatu keputusan berupa langkah-langkah penyelesaian sutu masalah atau pelaksanaan suatu pekerjaan yang terarah pada pencapaian tujuan tertentu”.
Perencanaan menurut William H. Newman dalam Abdul Majid menjelaskan bahwa “perencanaan adalah menentukan apa yang akan dilakukan. Perencanaan berisi rangkaian putusan yang luas dan penjelasan-penjelasan tentang tujuan, penentuan kebijakan. Penentuan program, penentuan metode-metode dan prosedur tertentu dan penentuan kegiatan berdasarkan jadwal sehari-hari.
Sedangkan pembelajaran pada hakikatnya suatu proses komunikasi transtraksional yang bersifat timbale balik, baik antara guru dengan siswa maupun antara siswa dengan siswa yang lain untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.[1]
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar yang meliputi guru dan siswa yang saling bertukar informasi. Pengertian pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pengertian pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.
Di sisi lain pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, tetapi sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar agar peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat memengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang peserta didik, namun proses pengajaran ini member kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan pengajar saja. Sedangkan pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara pengajar dengan peserta didik.[2]

B.                Perencanaan Proses Pembelajaran
Perencanaan proses pembelajaran meliputi Silabus dan rancana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat identitas mata pelajaran, Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD), Indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian hasil belajar dan sumber belajar.
1.                  Silabus
Silabus sebagai acuan pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran, memuat identitas mata pelajaran atau tema pelajaran, standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indicator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu dan sumber belajar. Silabus dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan standar isi dan standar kompetensi kelulusan (SKL).
2.                  Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Rencana pelaksanaan pembelajaran dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar siswa dalam upaya mencapai kompetensi dasar. Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta member ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.



            Komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
a.       Identitas mata pelajaran,
b.      Standar kompetensi (SK),
c.       Kompetensi dasar (KD),
d.      Indikator pencapaian kompetensi,
e.       Tujuan pembelajaran,
f.       Materi ajar,
g.      Alokasi waktu,
h.      Metode pembelajaran,
i.        Kegiatan pembelajaran,
·         Pendahuluan
·         Inti
·         Penutup
j.        Penilaian hasil belajar,
k.      Sumber belajar.[3]

C.                Dasar Perlunya Perencanaan Pembelajaraan
Perlunya perencanan pembelajaran sebagaimana dimaksudkan agar dapat dicapai perbaikan pembelajaran. Upaya perbaikan pembelajaran ini dilakukan dengan asumsi sebagai berikut :
1.                  Untuk memperbaiki kualitas pembelajaran perlu diawali dengan perencanaan pembelajaran yang diwujudkan dengan adanya desain pembelajaran.
2.                  Untuk merancang suatu pembelajaran perlu menggunakan pendekatan sistem.
3.                  Perencanaan desain pembelajaran diacukan pada bagaimana seorang belajar.
4.                  Untuk merencanakan suatu desain pembelajaran diacukan pada siswa secara perorangan.
5.                  Pembelajaran yang dilakukan akan bermuara pada ketercapaian tujuan pembelajaran, dalam hal ini aka nada tujuan langsung pembelajaran, dan tujuan pengiring dari pembelajaran,
6.                  Sasaran akhir dari perencanaan desain pembelajaran adalah mudahnya siswa untuk belajar.[4]

D.                Karakteristik Perencanaan Pembelajaran
Ada beberapa karakteristik yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan guru dalam menyusun suatu rencana pembelajaran, yaitu :
1.                  Penyusunan perencanaan pembelajaran ditujukan terhadap siswa yang belajar.
Rencana pembelajaran harus disusun berdasarkan tujuan dan kebutuhan siswa. Materi pembelajaran yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan siswa, perkembangan siswa, mengandung norma yang posistif, serta memperhatikan minat dan perhatian siswa.
2.                  Memiliki tahapan-tahapan
Dalam menyusun rencana pembelajaran ada beberapa tahap yang harus diperhatikan :
a.       Tahap persiapan,
b.      Tahap pelaksanaan,
c.       Tahap evaluasi,
d.      Tahap tindak lanjut.
3.                  Sistematis
Perencanaan pembelajaran harus disusun secara sistematis yakni materi dari yang mudah dan diikuti dengan materi yang sulit dan dari segi pembelajaran yang diberikan harus mempertimbangkan keakuran metode, media, evaluasi, dan tujuan pembelajaran.
4.                  Pendekatan sistem
Pembelajaran harus dapat disusun dengan menggunakan pendekatan sistem. Pendekatan sistem adalah salah satu cara dalam penyusunan rencana pembelajaran yang dapat memperhatikan berbagai komponen-komponen pembelajaran seperti metode, media, evaluasi, dan tujuan pembelajaran, waktu, sumber belajar. Semua komponen tersebut harus dapat berkolaborasi dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
5.                  Pembelajaran yang humanis
Guru harus menyadari bahwa siswa yang dihadapi harus dapat diperlakukan sebagai manusia yang juga memiliki berbagai macam potensi yang harus dihargai dan dikembangkan.[5]

E.                Manfaat Perencanaan Pembelajaran
Perencanaan pembelajaran merupakan satu tahapan dalam proses belajar mengajar. Perencanaan menjadi sangat penting karena dapat berfungsi sebagai dasar, pemandu, alat control dan arah pembelajaran. Perencanaan pembelajaran yang baik akan melahirkan proses pembelajaran yang baik pula.
Perencanaan pembelajaran atau disebut juga desain instruksional merupakan kegiatan organisasi instruksional. Yang dimaksud dengan organisasi instruksional adalah perencanaan pembelajaran mengkoordinasikan komponen-komponen pembelajaran atau disebut juga dengan desain instruksional.
Secara sistematik perencanaan pembelajaran mencakup kegiatan merumuskan tujuan pembelajaran, merumuskan isi / materi pelajaran yang harus dipelajari, merumuskan kegiatan belajar, dan merumuskan sumber belajar / media pembelajaran yang akan digunakan serta merumuskan evaluasi pembelajaran. Untuk itu, dalam bahan belajar ini akan diarahkan bagaimana mahasiswa-mahasiswi dapat membuat perencanaan pembelajaran tersebut.
Perencanaan pembelajaran merupakan kegiatan penting dalam pembelajaran, sehingga pembelajaran harus didesain secara sistematis  dalam merumuskan tujuan, bagaimana karakteristik siswa-siswinya, bagaimana menentukan metodenya, bagaimana menentukan topiknya, dan bagaimana cara mengevaluasinya.[6]



BAB III
PENUTUP

A.                Kesimpulan
Perencanaan menurut William H. Newman dalam Abdul Majid menjelaskan bahwa “perencanaan adalah menentukan apa yang akan dilakukan. Perencanaan berisi rangkaian putusan yang luas dan penjelasan-penjelasan tentang tujuan, penentuan kebijakan. Penentuan program, penentuan metode-metode dan prosedur tertentu dan penentuan kegiatan berdasarkan jadwal sehari-hari.
Sedangkan pembelajaran pada hakikatnya suatu proses komunikasi transtraksional yang bersifat timbale balik, baik antara guru dengan siswa maupun antara siswa dengan siswa yang lain untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Perencanaan proses pembelajaran meliputi Silabus dan rancana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat identitas mata pelajaran, Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD), Indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian hasil belajar dan sumber belajar.
Ada beberapa karakteristik yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan guru dalam menyusun suatu rencana pembelajaran, yaitu :
1.      Penyusunan perencanaan pembelajaran ditujukan terhadap siswa yang belajar.
2.      Memiliki tahapan-tahapan
3.      Sistematis
4.      Pendekatan sistem
5.      Pembelajaran yang humanis
Perencanaan pembelajaran merupakan satu tahapan dalam proses belajar mengajar. Perencanaan menjadi sangat penting karena dapat berfungsi sebagai dasar, pemandu, alat control dan arah pembelajaran. Perencanaan pembelajaran yang baik akan melahirkan proses pembelajaran yang baik pula.




B.                Kritik dan Saran
Penulis sangat menyadari dalam makalah ini mungkin banyak kesalahan dari segi internalnya maupun eksternalnya, penulis sangat berharap agar pembaca bisa memberikan saran ataupun kritik berupa masukan yang positif demi kesempurnaan isi makalah ini.



























DAFTAR PUSTAKA


Anwar. Kasful dan Hendra Harmi, Perencanaan Sistem Pembelajaran KTSP, (Bandung: ALFABETA, 2011)

Rusman, Belajar dan Pembelajaran Berbasis Komputer, (Bandung: ALFABETA, 2012)

Dini Rosdiani, Perencanaan Pembelajaran Dalam Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, (Bandung : ALFABETA, 2013)

Uno. Hamzah B, Perencanaan Pembelajaran, (Jakarta : Bumi Aksara, 2011)



[1]  Kasful Anwar dan Hendra Harmi, Perencanaan Sistem Pembelajaran KTSP, (Bandung: ALFABETA, 2011), Hlm.21-23
[2]  Dini Rosdiani, Perencanaan Pembelajaran Dalam Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, (Bandung : ALFABETA, 2013), Hlm.2-3
[3]  Rusman, Belajar dan Pembelajaran Berbasis Komputer, (Bandung : ALFABETA, 2012), Hllm.6-9
[4]  Hamzah B. Uno, Perencanaan Pembelajaran, (Jakarta : Bumi Aksara, 2011), Hlm. 3
[5]  Kasful Anwar dan Hendra Harmi, Op.Cit, Hlm.28-30
[6]  Kasful Anwar dan Hendra Harmi, Ibid, Hlm. 32

Makalah-Guru-Dan-Administrasi-Pendidikan

BAB I PENDAHULUAN A.                 Latar Belakang Pada waktu yang lampau, pada umumnya tugas kewajiban guru hampir seluruhnya m...