Minggu, 17 Desember 2017

Makalah-Guru-Dan-Administrasi-Pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN

A.                Latar Belakang

Pada waktu yang lampau, pada umumnya tugas kewajiban guru hampir seluruhnya mengenai pekerjaan mengajar melulu dalam arti menyampaikan keterangan-keterangan dan fakta-fakta dari buku kepada murid, memberi tugas-tugas dan memeriksanya.
Waktu dan keadaan demikian di sekolah-sekolah kita sekarang telah sedang berlaku dengan cepat. Sekarang, guru harus juga memperhatikan kepentingan-kepentingan sekolah, ikut serta menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi sekolah, yang kadang-kadang sangat kompleks sifatnya.
Dalam banyak hal pekerjaannya berhubungan erat sekali dengan pekerjaan seorang pengawas, kepala sekolah, pegawai tata usaha sekolah, dan berbagai pejabat inspeksi lainnya.
Secara berangsur-angsur tekanan makin diberikan kepada partisipasi guru dalam administrasi pendidikan/sekolah, yakni penyelenggaraan dan manajemen sekolah.
Tokoh-tokoh pendidikan sekarang menekankan kepada gagasan tentang demokrasi dalam hidup sekolah; guru-guru hendaknya didorong untuk ikut serta dalam pemecahan masalah-masalah administrasi yang langsung mempengaruhi status professional guru.
Kegiatan partisipasi guru dalam administrasi sekolah itu seperti sumbangan-sumbangan guru terhadap perbaikan kesejahteraan guru dan murid, penyempurnaan kurikulum, pilihan buku-buku dan alat-alat pelajaran, dsb.
Berhubung dengan itu, sangat penting dibicarakan dalam rangka administrasi pendidikan ini tentang peranan dan tanggung jawab guru di dalam organisasi dan administrasi sekolah tempat kegiatan-kegiatan meliputi lebih dari khusus mengajar di dalam kelas.




B.                Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang penulis angkat didalam makalah ini sebagai proses pembelajaran adalah sebagai berikut :
1.                  Bagaimana partisipasi guru dalam administrasi pendidikan ?
2.                  Apa arti demokrasi dalam administrasi sekolah ?
3.                  Beberapa kesempatan berpartisipasi !
4.                  Bagaimana orientasi bagi guru-guru baru !
5.                  Kode etik guru !

C.                Tujuan Penulisan
Tujuan penulis dalam makalah ini tidak bukan sebagai memberikan pemahaman dan gambaran kepada pembaca agar bisa melaksanakan isi makalah ini dengan sebaik mungkin.



















BAB II
PEMBAHASAN

GURU DAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN

A.                Pentingnya Partisipasi Guru Dalam Administrasi Pendidikan

Sesudah Indonesia merdeka, sistem pendidikan di sekolah-sekolah bersifat nasional dan demokratis. Untuk mencapai tujuan ini, diperlukan administrasi dan pengawasan yang demokratis pula, dan sekolah-sekolah harus benar-benar hidup dan tumbuh di atas dasar-dasar filsafat Negara, yaitu pancasila.
Untuk itu pula maka partisipasi guru dalam administrasi sekolah sangat penting dan menjadi keharusan. Partisipasi dimaksud hendaknya ditafsirkan sebagai kesempatan-kesempatan kepada para guru dan kepala sekolah untuk memberi contoh tentang bagaimana demokrasi dapat diterapkan untuk memecahkan berbagai masalah pendidikan.
Harus diakui, proses pendemokrasian administrasi dan pengawasan sekolah-sekolah itu meminta waktu, dan hanya dapat dicapai secara berangsur-angsur. Kebiasaan-kebiasaan yang tradisional pada para petugas pendidikan dan para guru, sukar sekali mengubah dan membuangnya.
Banyak usaha pembaharuan telah dijalankan, seperti dalam bentuk dari isi kurikulum, cara-cara atau metode-metode mengajar yang baik dan efisien, adanya pembinaan dan penyuluhan, kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler, dan sebagainya. Tetapi, semua itu tidak hanya mendatangkan hasil yang sedikit sekali, kadang-kadang tidak kelihatan sama sekali hasilnya. Hal ini disebabkan antara lain oleh adanya konservatisme dan sifat-sifat tradisional di dalam praktek kehidupan pendidikan yang sangat kuat. Juga disebabkan karena kurang atau tidak diikut sertakannya guru-guru dalam usaha-usaha pembaharuan pendidikan.[1]

B.                Arti Demokrasi Dalam Administrasi Sekolah
Penerapan demokrasi dalam administrasi sekolah hendaknya diartikan bahwa administrasi sebagai kegiatan atau rangkaian kegiatan kepemimpinan; dengan itu tujuan-tujuan sekolah dan cara-cara untuk mencapainya dikembangkan dan dijalankan. Kegiatan-kegiatan kepemimpinan ini meliputi :
1.                  Kegiatan mengorganisasi personel dan material,
2.                  Merencanakan program / kegiatan-kegiatan,
3.                  Membangun semangat guru-guru dan inisiatif perseorangan / kelompok kea rah tercapainya tujuan-tujuan,
4.                  Menilai hasil-hasil dari rencana-rencana, prosedur-prosedur, serta pelaksanaannya oleh perseorangan dan kelompok.

Apabila administrasi dipandang sebagai proses bekerja dengan orang-orang dan mengordinasi usaha-usaha mereka ke dalam keseluruhan yang bekerja efisien dan produktif, maka jelas bahwa tanggung jawab tidak dapat lagi dipusatkan pada hanya satu orang belaka. Tanggung jawab harus disalurkan secara luas diantara semua orang yang mengambil bagian dalam program sekolah.
Dengan demikian, tekanan berpindah dari kekuasaan untuk menentukan dan memerintah kepada proses mengembangkan semangat, pikiran, dan perbuatan yang koorperatif, dan kepada kesempatan-kesempatan yang diciptakan bagi pertumbuhan kepemimpinan perseorangan dan kelompok.
Masalah memimpin dan mengatur sekolah secara demokratis menimbulkan masalah tentang perlunya kesempatan-kesempatan bagi partisipasi bagi guru-guru secara penuh, juga pegawai-pegawai sekolah, murid-murid dan orang tua murid, dalam memikirkan cara-cara memajukan program dan kesejahteraan sekolah. Persetujuan semua merupakan cirri khas bagi demokrasi di dalam administrasi sekolah.
Adapun pola-pola tingkah laku yang demokratis yang seyogyanya dimiliki oleh guru ialah :
1)        Menghormati kepribadian seseorang,
2)        Memperhatikan hak kebebasan orang lain,
3)        Kerja sama dengan orang lain,
4)        Menggunakan kecakapan-kecakapan mereka untuk memajukan kesejahteraan umum dan kemajuan sosial,
5)        Lebih menghargai penggunaan kecerdasan secara efektif dalam memecahkan masalah-masalah daripada penggunaan kekerasan atau emosi,
6)        Menyelidiki, menemukan, dan menerima kekurangan-kekurangan diri sendiri dan berusaha memperbaikinya, dll
C.                Beberapa Kesempatan Berpartisipasi
Ada bermacam-macam kesempatan yang dapat digunakan untuk mengikut sertakan guru-guru dalam kegiatan-kegiatan sekolah seperti dalam :
a.                  Mengembangkan filsafat pendidikan
Mengembangkan filsafat pendidikan berarti bahwa dalam  setiap langkah kegiatan mendidik selalu berusaha hendak menjawab apakah yang sedang kita lakukan, bagaimana kita melakukanny, apa sebab kita melakukannya, bagaimana kita melakukannya.
b.                  Memperbaiki dan menyesuaikan kurikulum
Guru-guru sendiri untuk sebagian terbesar tidak mengambil bagian apapun dalam perencanaan perbaikan kurikulum itu. Mereka tinggal menerima dan menggunakan saja menurut apa adanya.
c.                  Merencanakan program supervisi
Dengan supervisi dimaksudkan kegiatan-kegiatan yang langsung ditujukan untuk memperbaiki situasi mengajar-belajar di dalam kelas. Tujuannya yang pokok ialah membantu para guru untuk tumbuh secara pribadi dan professional, dan untuk belajar memecahkan sendiri masalah-masalah yang mereka hadapi dalam tugasnya.
d.                 Merencanakan kebijakan-kebijakan kepegawaian
Sekarang, dengan adanya PGRI dan makin berkembangnya kesadaran dan pengertian akan perlunya demokrasi dalam pendidikan pada pemimpin-pemimpin pendidikan dan pendidik/guru kita pada umumnya, kebijakan-kebijakan kepegawaian makin berubah kea rah pelaksanaan yang demokratis.

D.                Orientasi Bagi Guru-guru Baru
a.                   Arti dan perlunya orientasi
Yang dimaksud dengan masa orientasi ialah suatu kesempatan yang diberikan kepada seorang pegawai atas guru yang baru mulai bekerja, untuk mengadakan observasi dan berpartisipasi langsung dengan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan tugasnya sebagai guru di sekolah itu, agar dalam waktu yang relatif singkat ia dapat segera mengenal dan menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat ia bekerja.
b.                  Tujuan orientasi
Tujuan orientasi yang terutama ialah membawa guru baru untuk dapat segera mengenal situasi dan kondisi serta kehidupan sekolah pada umumnya, agar selanjutnya dapat mendorong / memberi motivasi kepada mereka untuk bekerja lebih baik dan bergairah.
c.                   Kegiatan-kegiatan orientasi
·         Bantuan mendapat perumahan/tempat tinggal yang sesuai,
·         Mengenalkan guru baru kepada sistem dan tujuan sekolah,
·         Mengenalkan guru baru kepada kondisi dan situasi masyarakat lingkungan sekolah,
·         Membantu guru baru dalam perkenalan dan penyesuaian terhadap personel sekolah,
·         Membantu guru baru dalam usaha memperbaiki dan mengembangkan kecakapan-kecakapan mengajarnya,
·         Membangkitkan sikap-sikap dan minat professional,
·         Menyediakan kesempatan untuk bertukar ide-ide.[2]

E.                Kode Etik Guru
1.                  Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila.
2.                  Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran professional dalam menetapkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan peserta didik masing-masing.
3.                  Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan melakukan bimbingan dan pembinaan.
4.                  Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang keberhasilan proses belajar mengajar.
5.                  Guru memelihara hubungan baik dengan orang tua siswa dan masyarakat sekitarnya untuk membina peran serta dan rasa tanggung jawab bersama terhadap pendidikan.
6.                  Guru secara pribadi dan bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya.
7.                  Guru memelihara hubungan seprofesi, semangat keluargaan dan kesetiakawanan sosial.
8.                  Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian.
9.                  Guru melaksanakan segala kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan.[3]




















BAB III
PENUTUP

A.                Kesimpulan

Setelah diketahui jadi dapat kita simpulakan bahwa guru dan  administrasi itu meliputi, (1) pentingnya partisipasi guru dalam administrasi pendidikan, (2) arti demokrasi dalam administrasi sekolah, (3) beberapa kesempatan berpartisipasi, (4) orientasi bagi guru-guru baru, (5) kode etik guru.
Sesudah Indonesia merdeka, sistem pendidikan di sekolah-sekolah bersifat nasional dan demokratis. Untuk mencapai tujuan ini, diperlukan administrasi dan pengawasan yang demokratis pula, dan sekolah-sekolah harus benar-benar hidup dan tumbuh di atas dasar-dasar filsafat Negara, yaitu pancasila.
Untuk itu pula maka partisipasi guru dalam administrasi sekolah sangat penting dan menjadi keharusan. Partisipasi dimaksud hendaknya ditafsirkan sebagai kesempatan-kesempatan kepada para guru dan kepala sekolah untuk memberi contoh tentang bagaimana demokrasi dapat diterapkan untuk memecahkan berbagai masalah pendidikan.
Penerapan demokrasi dalam administrasi sekolah hendaknya diartikan bahwa administrasi sebagai kegiatan atau rangkaian kegiatan kepemimpinan; dengan itu tujuan-tujuan sekolah dan cara-cara untuk mencapainya dikembangkan dan dijalankan. Kegiatan-kegiatan kepemimpinan ini meliputi :
5.                  Kegiatan mengorganisasi personel dan material,
6.                  Merencanakan program / kegiatan-kegiatan,
7.                  Membangun semangat guru-guru dan inisiatif perseorangan / kelompok kea rah tercapainya tujuan-tujuan,
8.                  Menilai hasil-hasil dari rencana-rencana, prosedur-prosedur, serta pelaksanaannya oleh perseorangan dan kelompok.






B.                Kritik dan Saran
Penulis sangat menyadari dalam makalah ini mungkin banyak kesalahan dari segi internalnya maupun eksternalnya, penulis sangat berharap agar pembaca bisa memberikan saran ataupun kritik berupa masukan yang positif demi kesempurnaan isi makalah ini.



























DAFTAR PUSTAKA
Purwanto. Ngalim,  Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung : Remaja Rosdakarya,2010)

Taniredja. Tukiran, Pudjo Sumedi, dan Tri Yulianto Purnama, GURU YANG PROFESIONAL, (Bandung : ALFABETA, 2015)



[1]  Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung : Remaja Rosdakarya,2010), Hlm.145
[2]  Ngalim Purwanto, Ibid, Hlm.146-155
[3]  Tukiran Taniredja, Pudjo Sumedi, dan Tri Yulianto Purnama, GURU YANG PROFESIONAL, (Bandung : ALFABETA, 2015), Hlm.108

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makalah-Guru-Dan-Administrasi-Pendidikan

BAB I PENDAHULUAN A.                 Latar Belakang Pada waktu yang lampau, pada umumnya tugas kewajiban guru hampir seluruhnya m...